Profile

So lemme introduce a bit about myself here, I'm Intan Rizky Yuliani, just Intan for short
I love my girlies, we laugh, we cries, we doing fun stuff
And yes, i have a boyf, but i'm in love in "someone" in my college HAAHHA ssshhh :P


Affiliates
Kikih Maya Nining Okty Vira Sally
Misc


KIAN REDUPNYA SOROT MUSEUM BAHARI
Selasa, 06 April 2010 / 19.30


Teriknya sang surya yang menyinari bumi ini tak terkecuali sebuah bangunan tua seluas 9000 m2 dan terdiri dari 3 lantai ini dahulunya bernama Westzijdsch Pakhuizen atau sekarang yang lebih dikenal dengan nama Museum Bahari. Berlokasi di Jl. Pasar Ikan No.1 Sunda Kelapa Jakarta Barat. Disudut pintu masuk yang tak begitu besar seorang wanita yang berasal dari Kanada terlihat begitu seriusnya mengamati gedung ini. Donna, wanita tersebut akrab disapa, yang alasannya mengunjungi museum ini karena diajak oleh adiknya yang kebetulan berprofesi sebagai nelayan. Ia mengaku bahwa tempat ini menarik karena bersih dan terdapat penjelasan dalam bahasa Inggris yang jelas sangat membantunya. Adapun ia menambahkan kekurangan dari museum ini adalah tempatnya yang sulit dijangkau walaupun ada petunjuk-petunjuk jalan ke tempat ini namun kurang jelas.

Museum ini menyimpan berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias, hingga kapal zaman VOC. Disajikan pula berbagai model dan miniatur kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Sukmajaya, pemandu museum, menceritakan bahwa bangunan ini berdiri sejak tahun 1622 terbuat dari kayu, yang awalnya dijadikan gudang rempah-rempah. Ia menambahkan bahwa koleksi benda-benda kuno ini didapatkan dari hibah atau hadiah yang dikirim dari Cina, Belanda dan Jerman. Perawatan harian yang dilakukan disini hanya membersihkan koleksi dari sarang debu dan laba-laba, namun untuk perawatan tahunan museum ini dibiayai oleh pemerintah, ungkap pria berusia 42 tahun ini.
Museum ini memiliki rata-rata pengunjung 2000 orang setiap bulannya, dengan presentasi lebih banyak turis dari Eropa di bandingkan turis lokal. Ia menyayangkan sekali dengan sikap generasi muda yang sekarang ini menganggap bahwa rekreasi ke museum adalah hal yang kuno. Padahal ia menambahkan untuk masuk kedalam ini hanya merogoh kocek sebesar Rp. 2000 untuk umum, Rp.1000 untuk mahasiswa dan Rp.600 untuk pelajar.

Gedung yang diresmikan oleh Bapak Ali Sadikin ini memiliki 3 aspek yaitu, bangunannya yang tua, dekat dengan pelabuhan sunda kelapa dan di sebelah utara merupakan perkampungan nelayan internasional dan didepan museum dijual banyak peralatan kapal. Menurut pengakuannya belum pernah terdapat barang-barang koleksi yang hilang. Hanya saja terdapat beberapa koleksi yang rusak ketika banjir melanda dan air masuk kedalam museum. Mantan pekerja kontraktor swasta ini mengatakan kerap sekali terjadi komplain mengenai bangunan yang terkesan kotor dan gelap. Namun itulah yang membuat museum ini unik karena berbeda dengan museum lain yg terkesan sangat bersih dan rapi. Menurut pengakuan beberapa pengunjung, mengunjungi museum bahari seperti masuk kedalam mesin waktu yg membawa mereka yang zaman dahulu kala. Terakhir kalinya ia menambahkan sebenarnya sudah banyak pihak yg mempublikasikan museum ini. Hanya saja tempatnya sulit di jangkau, apalagi sekarang sudah ditutupi pasar. Tinggal bagaimanakah sikap generasi muda kita menghargai peninggalan- peninggalan sejarah budaya kita. Karena siapa lagi kalau bukan generasi muda yang akan melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah bangsa ungkapnya mengakhiri wawancara ini. Kita semua tentunya berharap demikian, dan diharapkan juga adanya campur tangan pemerintah dalam pelestarian museum bahari yang kita cintai ini.

Label:


(c) kikih 2009