Profile

So lemme introduce a bit about myself here, I'm Intan Rizky Yuliani, just Intan for short
I love my girlies, we laugh, we cries, we doing fun stuff
And yes, i have a boyf, but i'm in love in "someone" in my college HAAHHA ssshhh :P


Affiliates
Kikih Maya Nining Okty Vira Sally
Misc


potret kehidupan anak jalanan
Selasa, 06 April 2010 / 19.17
Dibalik gemerlap ibukota, ada kehidupan anak jalanan yang jauh dari hiruk-pikuk semua itu. Kemiskinan menjadi alasan para anak jalanan untuk meminta-minta. Salah satu kawasan yang kerap dijadikan tempat mereka mencari nafkah adalah Bundaran Senayan.

Andre (12), salah satu anak jalanan yang beroperasi di sekitar Bundaran Senayan, mengaku bekerja sebagai pengamen atas dasar untuk membantu sang ibu yang hanya seorang pembantu menafkahi kelima anaknya. Dia harus bekerja dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore bersama kakaknya Farrel (15). Karena keberadaan mereka yang sebenarnya dilarang dalam PERDA 8/2007, Andre dan kawan-kawannya sering sekali ditangkap oleh SATPOL PP yang berpatroli di daerah itu. Andre mengungkapkan bahwa selain ditangkap mereka juga dipukuli bahkan dirampas uang hasil mengamennya. “Selain uang kita diambil kartu pelajar kita pun diambil, kita dituduh memalsukannya” lanjut Andre yang juga salah satu siswa SMA Negeri Jakarta. Farrel, kakaknya, juga menambahkan bahwa tidak ada pelatihan keterampilan selama mereka dalam tahanan seperti yang selama ini dikira oleh masyarakat.

Di sisi lain, selain pengalaman buruk yang didapat , pengalaman bertemu tokoh idola pun mereka rasakan. Kerap kali mereka bertemu artis – artis yang melewati jalan itu, atau mereka yang sedang syuting. “Pengalaman enaknya kita bisa ketemu artis disini, kadang – kadang kita ikut syuting jadi peran pembantu” ucap Andre yang bercita – cita meneruskan sekolahnya tanpa mengamen.

Namun, banyak terjadi perbedaan pendapat mengenai keberadaan mereka sebagai anak jalanan. Dari pihak yang berwajib, Bapak Indra selaku petugas SATPOL PP yang mengawasi 10 kelurahan mengungkapkan bahwa keberadaan mereka kerap kali mengganggu ketertiban lalu lintas, apalagi daerah protokol jalur utama pusat kota Jakarta
Lain lagi tanggapan dari orang sekitar, menurut Atin (34) pegawai yang bekerja di salah satu pusat perbelanjaan terkemuka daerah itu, keberadaan mereka tidak mengganggu bahkan seharusnya pemerintah mengambil tindakan untuk melindungi mereka seperti yang terdapat dalam Undang –Undang. Hal yang sama diungkapkan Bapak Ahmad (42) pegawai swasta yang menambahkan perlunya pemberian pendidikan keterampilan pada mereka.
Harus diakui bahwa isu mengenai anak-anak jalanan bukanlah hal yang asing, walaupun sampai saat ini pemerintah masih belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasinya. Entah meresahkan atau tidaknya keberadaan mereka, perlu disadari bahwa mereka juga anak-anak bangsa yang memiliki hak-hak yang sama. Dengan demikian, kekerasan tentunya harus dihindari diganti dengan kepedulian yang mendidik demi masa depan mereka.

Label:


(c) kikih 2009